Kembali


DEMA 2025-07-12 15:39:15

PUBLIC LECTURE “DYNAMICS ISLAMOPHOBIA IN THAILAND”

Pada hari Rabu 28 Mei 2025, Fakultas Humaniora mengadakan Public Lecture yang di lakasanakan di Aula Istanbul UNIDA GONTOR Kampus C. Acara ini dihadiri oleh seluruh civitas akademika dan seluruh mahasiswi Fakultas Humaniora. Dalam seminar internasional bertajuk "Dynamics of Islamophobia in Thailand", para peserta disuguhkan pemaparan mendalam mengenai dinamika Islamophobia di Thailand, dengan fokus pada ketegangan antara komunitas Buddha dan Muslim yang terus berkembang dalam dua dekade terakhir. Presentasi ini memberikan tinjauan historis, sosial, dan politik melalui pendekatan berbasis studi kasus di Thailand Selatan serta beberapa provinsi di wilayah Tengah dan Utara.



Islamophobia di Thailand dijelaskan bukan semata sebagai ketakutan terhadap Islam, tetapi lebih sebagai bentuk diskriminasi sistemik yang meminggirkan umat Muslim dari ruang sosial dan publik. Fenomena ini kian kompleks karena dipengaruhi oleh nasionalisme budaya yang memposisikan agama Buddha sebagai identitas dominan negara, sehingga keberadaan Islam kerap dipersepsikan sebagai "asing" dan tidak sejalan dengan identitas nasional Thailand.


Seminar ini juga menekankan pentingnya perhatian dari negara-negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia, terhadap isu ini. Ketegangan antar agama di kawasan Asia Tenggara memiliki pola yang mirip, sehingga dibutuhkan pendekatan kolektif lintas negara guna menjaga harmoni kawasan ASEAN. Salah satu aspek penting yang dibahas adalah kontribusi Patani Forum, lembaga riset yang aktif mendokumentasikan konflik di Thailand Selatan. Forum ini telah menyoroti bagaimana narasi anti-Muslim, pelarangan simbol keislaman, hingga ujaran kebencian berkembang dan diperkuat oleh kelompok-kelompok nasionalis.


Presenter memaparkan bahwa konflik terjadi dalam dua dimensi: vertikal (antara negara dan komunitas Muslim) dan horizontal (antarwarga Buddha dan Muslim). Ujaran kebencian yang marak di media sosial menjadi pendorong utama ketegangan, seringkali muncul dalam bentuk kampanye terstruktur. Berdasarkan penelitian yang disampaikan, ujaran kebencian terhadap Muslim memiliki empat tingkat, dari bias halus hingga hasutan untuk melakukan kekerasan. Sayangnya, pendekatan negara yang cenderung represif melalui mekanisme keamanan dinilai tidak menyelesaikan akar permasalahan, bahkan memperparah ketidakpercayaan masyarakat Muslim terhadap negara. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang mengedepankan dialog antaragama, keterlibatan masyarakat sipil, serta penguatan sistem peringatan dini untuk mencegah eskalasi konflik.



Menutup presentasi, narasumber mengajak kalangan akademisi dan mahasiswa di Indonesia untuk turut berperan aktif dalam isu ini, baik melalui riset komparatif, advokasi, maupun diplomasi masyarakat sipil sebagai bagian dari solidaritas regional dan komitmen terhadap perdamaian antar umat beragama di Asia Tenggara.


Penulis: Asti Qotrunnada

Editor: Rifdah Syifa Rabbani



Publisher : DEMA UNIDA Kelas C